Visa Mengambil Alih Dalam Transaksi Lintas Batas yang Ditokensasi. Visa sedang mempersiapkan revolusi dalam transaksi lintas batas dengan teknologi terbarunya, yang memungkinkan pertukaran dolar yang ditokensasi dan dolar fiat. Langkah ini memperkuat posisi Visa sebagai pemimpin dalam solusi pembayaran digital dan menunjukkan komitmennya untuk membuat masa depan keuangan yang lebih aman dan lancar.
Dolar yang Ditokensasi: Masa Depan Transaksi Lintas Batas. Dolar yang ditokensasi adalah versi digital dari mata uang fiat tradisional yang dikunci melalui teknologi blockchain. Ini memungkinkan transaksi lintas batas yang lebih cepat, aman, dan efisien. Dengan dukungan dari Visa, adopsi dolar yang ditokensasi diyakini akan melesat, memberikan konsumen dan bisnis lebih banyak pilihan untuk transaksi internasional.
Bagaimana Dolar yang Ditokensasi Bekerja dalam Transaksi Lintas Batas. Dalam transaksi lintas batas yang menggunakan dolar yang ditokensasi, dana dikonversikan menjadi bentuk digital dan dikirimkan dengan aman melalui internet. Ini menghilangkan kebutuhan untuk intermediasi tradisional, seperti bank, dan mengurangi risiko penipuan dan ancaman keamanan lainnya. Penerima kemudian menerima dana dalam mata uang lokal mereka, memberikan pengalaman transaksi yang mulus dan tanpa repot.
Keuntungan Dolar yang Ditokensasi bagi Bisnis dan Konsumen. Dolar yang ditokensasi memberikan banyak keuntungan bagi bisnis dan konsumen. Bagi bisnis, dapat mengurangi biaya transaksi dan meningkatkan efisiensi dengan menghilangkan kebutuhan untuk intermediasi. Konsumen mendapatkan keuntungan dari transaksi yang lebih cepat, lebih murah, dan lebih aman, membuat pembayaran internasional lebih mudah dan terjangkau.
Masa Depan Transaksi Lintas Batas dengan Dolar yang Ditokensasi. Dengan teknologi terbaru dari Visa, masa depan transaksi lintas batas terlihat lebih cerah dari sebelumnya. Dolar yang ditokensasi akan memberikan bisnis dan konsumen cara yang lebih aman dan efisien untuk melakukan transaksi lintas batas, sehingga memperkuat integrasi ekonomi global.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), perusahaan perbankan milik Grup Djarum, terus mengalami aksi jual oleh beberapa pemegang saham jumbo, meskipun investor asing lainnya mulai menunjukkan tanda-tanda untuk memborong emiten tersebut. Sepekan terakhir, rapor hijau pergerakan harga saham BBCA diikuti oleh akumulasi net buy atau beli bersih sebesar Rp1,25 triliun oleh investor asing. Namun, JPMorgan Chase & Co dan BlackRock Inc memiliki kebijakan berbeda dan terus memegang saham BBCA. Kepemilikan keduanya sangat penting, dengan JPMorgan memegang 1,56 persen saham BBCA atau setara 1,91 miliar lembar saham, sementara BlackRock memegang 1,44 persen saham BBCA atau setara 1,77 miliar lembar. Meski demikian, JPMorgan dan BlackRock kembali melakukan aksi jual saham BBCA pada pekan kedua Februari 2023. JPMorgan baru saja melepas 36,62 juta lembar saham BBCA pada 7 Februari 2023, sementara BlackRock juga melepas 6,5 juta lembar. Menurut Associate Director of Research and Investment Pi...
Komentar
Posting Komentar