Menurut Gubernur Bank Indonesia, kebijakan suku bunga yang stabil dan kebijakan makroprudensial yang ketat akan dapat menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam jangka pendek, keputusan ini dapat memberikan sentimen positif bagi pelaku usaha dan investor di Indonesia.
Namun demikian, Bank Indonesia tetap memantau perkembangan ekonomi dan inflasi dengan cermat. Jika inflasi kembali meningkat, Bank Indonesia siap melakukan penyesuaian kebijakan suku bunga untuk menjaga stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
Dalam kondisi saat ini, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung pemulihan ekonomi di Indonesia dengan tetap menjaga stabilitas harga dan keuangan. Keputusan ini menunjukkan bahwa Bank Indonesia telah mempertimbangkan faktor-faktor ekonomi dan keuangan secara cermat dalam pengambilan keputusan kebijakan.
Bank Indonesia memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga acuan BI7DRRR pada Rapat Dewan Gubernur pada Kamis (16/2). Keputusan tersebut didasarkan pada perkiraan Bank Indonesia bahwa suku bunga sebesar 5,75% akan cukup untuk menjaga inflasi inti di kisaran 2-4% pada 1H23 dan inflasi harga konsumen di kisaran 2-4% pada 2H23.
Selain itu, keputusan tersebut juga didukung oleh menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejak awal tahun sebesar +2,39% YTD per 15 Februari 2023. Hal ini menunjukkan kondisi perekonomian Indonesia yang semakin stabil, seiring dengan meningkatnya investasi dan permintaan domestik.
Untuk tahun 2023, Bank Indonesia mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,5-5,3%. Proyeksi ini disesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan akan lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya, yaitu sekitar 2,3%.
Keputusan Bank Indonesia untuk tidak menambah suku bunga pada saat ini dapat memberikan sentimen positif bagi pelaku usaha dan investor di Indonesia. Bank Indonesia juga menegaskan bahwa mereka akan terus memantau kondisi ekonomi dan inflasi, dan siap untuk melakukan penyesuaian kebijakan suku bunga jika diperlukan.
Dalam jangka pendek, kebijakan suku bunga yang stabil dan kebijakan makroprudensial yang ketat akan dapat menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Dengan kebijakan ini, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung pemulihan ekonomi Indonesia dengan tetap menjaga stabilitas harga dan keuangan di masa yang akan datang.
Bank Indonesia Memutuskan untuk Menahan Suku Bunga Acuan, Meski Inflasi Terkendali.
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) dalam Rapat Dewan Gubernur pada 16 Februari 2023. Dalam keputusan yang diharapkan ini, BI7DRRR tetap berada di level 5,75%, dengan deposit facility dan lending facility masing-masing tetap 5% dan 6,5%.
Keputusan BI didorong oleh terkendalinya laju inflasi. Inflasi tahunan Indonesia turun ke level 5,28% pada Januari 2023, lebih rendah dari ekspektasi konsensus yang memperkirakan inflasi 5,4% YoY, sekaligus menandai tingkat inflasi tahunan terendah di Indonesia sejak Agustus 2022. Pada bulan tersebut, kenaikan inflasi inti melandai ke 3,27% YoY, terendah dalam 4 bulan terakhir.
Menurut BI, suku bunga 5,75% memadai untuk menjaga inflasi inti di kisaran 2-4% pada 1H23 dan inflasi harga konsumen di kisaran 2-4% pada 2H23. Selain inflasi, keputusan BI juga didasarkan oleh menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejak awal tahun sebesar +2,39% YTD per 15 Februari 2023.
Namun, keputusan BI untuk menahan suku bunga acuan juga memberikan dampak pada selisih dengan suku bunga The Fed yang berjarak 100 bps. Selisih ini berpotensi kian menyempit jika The Fed memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunganya pada Maret mendatang, yang akan menimbulkan risiko foreign outflow bagi Indonesia.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, BI telah menyiapkan beberapa amunisi seperti pemberlakuan wajib Devisa Hasil Ekspor (DHE) untuk ditahan di dalam negeri dengan jangka waktu 1 tahun, 3 tahun, dan 6 bulan. Aturan ini rencananya diterapkan per 1 Maret 2023 dan diharapkan bisa memperkuat rupiah. Selain itu, Bank Indonesia juga akan melanjutkan penerapan twist operation dengan melepas obligasi pemerintah tenor pendek untuk membuat imbal hasilnya menarik.
Namun, ketidakpastian eksternal tetap harus diwaspadai, salah satunya dari AS yang hingga kini masih harus menghadapi pasar ketenagakerjaan yang kuat serta inflasi yang cenderung sulit melemah (Januari 2023: 6,4%).
Komentar
Posting Komentar